Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

MASA LALU

Masa Lalu 23 Agustus 2013 Malam.. Dibalik kesunyianmu yang mencekam aku dapat bermain-main dengan pikiranku sendiri Berkhayal hingga ribuan mill dari pikiranku Menembus rentang waktu yang berlalu dan tanpa tersadari mereka semakin menjauh Ada dua jenis masa lalu Yang pertama yang ingin selalu kita ingat Dan yang kedua yang selalu ingin kita lupakan Namun terkadang yang selalu ingin kita lupakanlah yang selalu kita ingat Sungguh aneh! Hei Malam..!! Tak bisakah kau membangitkan memori indah setiap orang untuk sama-sama kita nikmati? Sehingga aku tak akan bosan

PUISI CINTA GALAU

Terkadang dalam kehidupan kita semua, yang namanya cinta tidak akan pernah pudar. Hitam putih dan pahit manisnya sebuah perjalanan cinta selalu membentang dalam sebuah pertanyaan. Hayoo ngaku siapa yang kali ini ketiban galau gara-gara pasangannya berubah?? Let's check it out!! Berbeda By : Cucu Sudiana Tgl Penulisan : Minggu, 20 Januari 2013 [20:32] Dulu.. Saat aku berada tepat di dalam bola matamu, engkau memujaku lebih dari yang aku kira Dulu.. Saat aku bersenyawa di dalam darahmu, engkau melihatku laksana tetesan embun yang melenyapkan kering di rahangmu Dulu.. Saat aku menjadi segalanya di dalam kehidupanmu, engkau rela menempuh jarak tak terjangkau sekuat tenagamu Tapi itu dulu!! Kini.. Saat aku terperosok jatuh dari kepercayaanmu, engkau menatap getir dari tubuhku Kini.. Saat aku jauh dari ingatanmu, engkau bereinkarnasi menjadi sosok misterius yang pernah kukenal Kini.. Saat aku tak ada lagi di dalam firasatmu, engkau menangkap isi lang...

SYAIR TIDUR

^^_Syair Tidur_^^ Kriiikkk… Kriiikkk… Kriiikkk… Kriiikkk… Kriiikkk… Kriiikkk… Kriiikkk… Kudengar senyawa serangga yang berinteraksi lewat suhu yang menembus tulang ini.. Kulihat sketsa hitam dan oren merampas pandanganku.. Berapa banyak lagi udara yang mesti aku hirup sebelum lestari halusinasi mengajakku menari?? … … … … …

ELEGI PIKIRANKU

By : Cucu Sudiana Jum’at, 18 Januari 2013 [11:51] Serak di tenggorokan membuat aliran darahku menurun Mata lelahku yang telah seharian berkedip masih terjaga Tak ada seorang pun mampu menemaniku malam ini Hanya pikiran kotor dan khayalan kelabu yang memenuhi otakku!! Gelas berisikan air minum berada di genggaman tangan Kuangkat tinggi-tinggi lalu bersorak riang Tak ada seorang pun menyahutku Hanya dengkuran dari mulut tua yang dengan kerendahan hati menatapku!! Kutarik selimut untuk menutupi dingin yang mencabik kulit Angin besar tak diundang merampas kain hangatku Tak ada seorang pun mempedulikanku Hanya gelak tawa yang menajam di dalam gendang telingaku!! Arah kananku enggan untuk menyeimbangkan rasionalitas Arah kiriku terlalu goyah mengendalikan emosi Terlalu ironis aku bilang Bagaikan terlahir dengan sempurna namun hidup dalam dunia yang kosong!!

Mata Peluru

3 Desember 2012 [Manusia] Pagi terlalu cepat datang untuk mengetuk pintu Lampu tidurku masih menyala di sudut kamar Terlalu rapat ketika kucoba menghirup napas pertama di hari dinginku Kutarik kembali selimut tebal yang telah bergumpal di kakiku [Makhluk Angkasa] Aku tak mengenal waktu.. Tuhan tidak memberikanku akal pikiran mengenai bagaimana caranya hidup Yang kutahu hanyalah perubahan cuaca dan pergantian siang dan malam Dan aku lebih suka keadaan gelap yang damai dibandingkan terang yang membunuhku [Manusia] Seragamku lengkaplah sudah Senapan mesinku telah penuh kuisi dengan mata peluru Perut buncitku pun telah penuh kuisi dengan dosa Kabut tebal perlahan pudar tibalah masaku mengalirkan darah [Makhluk Angkasa] Kutemui kembali pria yang menyebalkan itu Sebatang rokok yang memakan usia mudanya dibantingkan ketika ia melihatku Benda yang ada di bahunya itu dijulurkan tepat ke arahku Terakhir yang kudengar hanyalah dentuman keras dan hujaman...

Samakah Beban Kita??

Cucu Sudiana 2 Desember 2012 Suara malam kembali berdendang Di tumpukan batu-batu itu mereka bersembunyi Musim penghujan yang telah menyapa tanah selama berminggu-minggu masih setia mengalirkan keprihatinannya Naluri manusia yang berubah-ubah juga emosi yang meluap-luap tidak memberikan keuntungan yang berarti Apakah masih ada yang berkenan dengannya Seekor makhluk tanah yang populasinya mulai menurun akibat keegoisan manusia Ataukah memang suaranya tak senyaring dahulu? Tiada lagi memberi kehangatan bagi hamba Tuhan yang terlambat pulang Jenis makanan seperti apakah yang mereka telan setiap hari? Lalu cairan seperti apakah yang akan melanjutkan hidupnya? Pernahkah ia mengeluh? Tentang kemarau kemarin yang panjang.. Tentang penghujan yang memberikan banjir terhadap urat nadi Negara Kupikir mereka dapat terbang lepas ke angkasa Laksana kunang-kunang dan serangga lainnya Hidup tanpa beban dan hidup di dalam nadirnya Maka.. disaat bait hujan mulai...

“Aku dan Mereka”

“Aku dan Mereka” By: Cucu Sudiana Sabtu, 6 Oktober 2012 02:16 PM Dengan lemas aku menatapnya, melihatnya berlalu lalang dengan senyuman yang mungkin ia paksakan. Dari balik dinding yang tipis dirinya masuk dan keluar melalui tangga-tangga muda dengan umurnya yang masih sangat belita. Tempat ini baru bagiku, pelan-pelan aku bercengkrama dengan suara-suara yang sebelumnya tak aku kenali, tak pernah aku dengar sebelumnya, dan sama sekali tak pernah aku menginginkannya. Sembilan belas manusia berurutan beranjak naik dan turun lantai, keluar masuk ruangan yang dipenuhi kayu-kayu mati yang diam-diam menyimpan satu pesan. Pesan dari sebuah perkembangan zaman, entah dapat bertahan sampai kapan mereka menahan amarah yang membuncah di masing-masing kepalanya. Dentuman keras di gendang telingaku hanya mampu menyembunyikan perasaan yang tak beraturan. Jika aku menjadi sebuah benda, maka aku akan meminta diriku sendiri menjadi sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja. D...

PUISI ULANG TAHUN

+ 1 Penulis          : Cucu Sudiana Kulihat bayangku di cermin.. Paras-paras remajaku kian melekat.. Mengucapkan satu kata yang telah ku tunggu.. Dalam usiaku kurasa aku kini berbeda.. Peri-peri mulai membicarakan perubahanku.. Yang menemani dan memperhatikanku.. Kado-kado kecil di sudut mata menantiku.. Menyiratkan salam sejahtera.. “Happy Birthday untukku..”

TITIK AIR

TITIK AIR Kusaksikan titik air yang berkejaran di dinding tembus pandang ini Aku pun ikut menerawang dengan saksian itu Dan titik itulah yang selalu membuatku merindu setitik kehangatan setiap kali ia berdetak pertanda! Dari arah berlawanan terhantam belalakan energi pijar yang menguasai medan! Tak bisa kubayangkan derita sepucuk daun yang ada  di seberang sana Mungkin ia kedinginan, kesepian, atau malah mereka berhisteria mencari pertolongan Pikirku yang berhisteria hanyalah peri yang terbang meski tidak sempurna dengan hanya punya satu sayap Adakah itu suatu ketimpangan yang membaur dan bercampur dengan air hujan yang menyerang mereka? Seketika ketimpangan itu merupakan rintangan berbuah merayakan Apa yang mesti dibanggakan dari sebuah ketimpangan? Bukankah itu hasil dari proses ketidakseimbangan? Ketimpangan tak’kan berarti ketidakseimbangan, tapi bagian dari rintangan! Lantas apakah yangharus kita perbuat? Ketika kubaca makna dari semua itu membuat...

Sang Penerang Sang Pembawa Nestapa

Sang Penerang Sang Pembawa Nestapa Karya : Cucu Sudiana Terang di atas bumi yang mewarnai dedaunan nampak seperti tangan halus bayi yang mengayun perlahan Entah kenapa suram yang kutemukan di dalam kamarku menjebak aku dalam gelap tak bermata Siklus global warming yang terus kuingat sampai melekat kuat di genggamanku ingin terus aku tiup Lampu-lampu putih yang cahayanya berbaur dengan sinar matahari seakan menyadarkanku Berapa banyak nyawa manusia kubuang, berapa banyak pula burung-burung terbakar lewat ujung sayapnya?? Sungguh menakutkan, aroma tragis terus-terusan memburu dan menjahit kedua telingaku dengan jarum yang tumpul dan berkarat Ini bukan kesalahanku!! Susunan tanah merah yang terbakar lewat suhu ratusan derajat itu dan balutan semen yang terasa halus dan tiba-tiba mengeras jika diterpa air menghalangi pandanganku Tak mampulah aku melihat sejuknya sang penerang naturalis Tak mampu pula kukecup tangisannya Malangnya aku.. Yang harus mendekam di kam...

"KOSONG"

Kosong Karya   : Cucu Sudiana, S.Pd 22 Juli 2012 Hal ini telah merenggut sebagian dari nyawaku Hidup atas kehendak sendiri, orang-orang tak memandangku Jika aku dapat berandai-andai maka aku ingin sekali menjadi bagian dari mereka Berembug dan saling bertukar pendapat mengenai kondisi kehidupan saat ini Dua puluh empat jam yang kulalui bagaikan dua kali lipat dari perhitungan waktu nyata Membosankan!! Menjemukan!! Apakah tiada cerita indah yang mampu kuteguk melalui rahangku yang kering Tuhan?? Jasadku lemah, langkahku tak sepadan, rongga dadaku separuhnya hilang lalu terisi dengan kekosongan.. Yang dapat kulakukan hanyalah menghitung waktu dan mengkalkulasikannya dengan cermat.. Dengan hampa kuterbangkan angan-angan yang mulai mencuat diatas pikiranku Kurelakan mereka sirna ditelan waktu lalu dienyahkan oleh dingin malam..