Skip to main content

MATA - MATA KECIL (BAGIAN 2)



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY4NXyc_HlzMx2wgiWXIIU5MFqdIxgOTqvyeHbOlGU-gZqVUvoU8mm_rxVyJOiew3OQfdHblmCaeamjQMg5UM7DGIQW7ju7TbijnfO2yjH9PRnl8HXQq-xsY57qahaYBRFe_Tcu7yvmg8/s400/hanako1.jpgSejak kejadian itu Valen kembali menjalani aktivitas seperti biasanya, kejadian-kejadian ganjil kini pergi entah kemana. Kepingan DVD yang ia temukan masih tersimpan di dalam kamarnya, namun tak berani lagi ia memutar video misterius itu. Hal itu tentu saja membuat hari-hari yang dilalui Valen sangat tenang, ia bernapas seperti sedia kalanya.
Terik mentari di siang itu sepertinya terlalu panas untuk kulit lengan Valen yang saat itu tengah menuju ruang latihan teater.
“Panas sekali”
Keluh Valen sembari mengusap lengan dengan telapak tangannya. Hari itu hari Minggu di pertengahan Januari.
“Valen!!”
Seseorang dengan pita merah di belakang kepalanya menyapa keras-keras.
“Ya ampun, badan kamu kecil tapi suara kamu kenceng juga ya!!”
“Jhaha..Masalah buat loe??”
“Tentu ajah masalah besar, kuping aku lama-lama bisa jebol tau!!”
“Hush jangan bicara sembarangan, nanti didengar Tuhan”
“Ooppzz…becanda denk!!hehe”
“Nich!!”
Sekaleng soda Hanna tawarkan. Rasanya minuman itu pas sekali disaat panas yang dirasakan Valen mulai menyebar.
“Thank’s!!”
“Ekh Len, soal kasus kemaren gimana?? Loe gak digangguin lagi ma hal-hal yang aneh kan??”
“Udah enggak tukh!! Tapi sebenernya aku masih penasaran..”
“Sama! Peristiwa waktu di gudang itu aku masih bingung.”
“Entahlah, aku sendiri juga gak tau, seperti halusinasi tapi bener-bener nyata”
Valen membuka tutup kaleng soda yang dari tadi hanya digenggam saja. Bunyi mendesis keluar dari kaleng dan sedikit menyemburkan soda hingga tumpah di tangannya yang lembut.
“Oooppzzz!!!!”
“Jhaha…sorry, mungkin gara-gara aku tadi ngejar-ngejar kamu, jadinya kalengnya ikut kekocok”
“Hhmm..dasar..”
Gudang yang pernah membuat Vallen merasa ganjil dilewatinya. Pintu gudang yang sudah usang dan berdebu itu terlihat begitu dingin dan misterius.
“Hanna….”
“Iya, kenapa??”
“Udah seminggu sejak kejadian itu, tapi aku kok masih penasaran ya?”
“Aduh udahlah.. Hal ini sama sekali gak penting, kamu mau terus-terusan digangguin makhlus halus?”
Vallen merinding ketika Hanna mengatakan kata-kata terakhirnya, rasa penasarannya semakin menyala-nyala.
“Aku harus kembali mencari tahu apa yang sebenernya terjadi Han!”
Vallen segera menghampiri gudang, sambil menahan napasnya ia membuka pintu, Hanna hanya bisa pasrah dengan kemungkinan terburuk yang akan temannya alami.
Vallen mengamati setiap isi gudang tersebut dengan cermat, kursi yang bertumpukan, meja-meja usang yang kayunya dimakan usia dan benda-benda yang sudah tidak dipergunakan lainnya bertumpuk di ujung ruangan.
“Aku gak nemuin hal-hal yang mencurigakan disini”
“Dari tadi juga aku kan udah bilang, kamu sich ngotot terus!”
“Tunggu sebentar..Apa itu??”
Secarik foto tua terselip diantara tumpukan kursi. Di dalamnya terdapat potret seorang anak perempuan kecil mengenakan pakaian renda serba putih dengan pita rambut diatas kepalanya.
“Foto siapa ini?”
“Mana, coba aku lihat?”
Hanna menyambar lembar foto tersebut dan mengamatinya baik-baik.
“Aku gak tahu ini siapa. Sepertinya foto ini sudah lama tersimpan disini”
“Drrrtttt…..drrrrttttt!!”
“Hallo, owh iya-iya, maaf membuat kalian menunggu, kita kesana sekarang.”
“Ayo cepetan kita harus segera pergi, temen-temen kita sudah menunggu!”
Hanna menarik tangan Vallen, keduanya menuju ruangan teater untuk latihan. Diam-diam Vallen menyelipkan foto usang tersebut ke dalam saku celananya, ia meninggalkan gudang tersebut dengan kerutan kening di wajahnya.
“Tolong aku Kak..! Tolong aku..! Keluarkan aku dari sini..!”
Suara anak kecil yang dikenalinya itu memenuhi pikiran Vallen yang saat itu tengah berdiri sendiri di ruangan yang gelap.
“Aku ingin pulang…”
Vallen tercekat, pandangannya menangkap tubuh seorang anak perempuan kecil yang perlahan mendekatinya. Mulutnya terkunci, susah sekali rasanya untuk berbicara bahkan berteriak sekalipun. Tubuh gadis itu bergoncang dengan hebat, ingin rasanya ia berlari meninggalkan ruangan yang gelap dan sepi, namun usahanya sia-sia. Anak kecil it terus mendekat, semakin dekat, dan hampir saja Vallen bisa menangkap wajah perempuan kecil itu sebelum ia merasa ada orang lain yang memanggilnya.
“Vallen.. Vallen..!”
“Jangan mendekat!!!”
Vallen membuka matanya sambil berteriak, keringat di keningnya mengalir perlahan, jantungnya berdebar-debar tidak teratur dan napasnya tersendat-sendat.
“Anak itu..”
“Sadar Vallen, siapa yang kamu bicarakan?”
Cahaya yang menerpa kedalam matanya menarik kesadarannya.
“Ya Tuhan.. Apa maksud mimpiku barusan?”
Hanna masih bingung dengan apa yang dialami temannya itu, di sela waktu istirahat latihan mereka hanya merebahkan punggungnya diatas matras kecil di ruang teater dan tiba-tiba saja temannya itu tertidur dengan cepat dan bermimpi aneh.
“Jangan bilang, kalau anak kecil itu kembali…”
“Itu benar!”
Vallen memotong pembicaraan. Udara disekeliling mendadak dingin. Baru saja lepas dari dua minggu berlalu disaat ia dapat tidur dengan tenang dan melalui waktu-waktunya dengan nyaman, kini ia harus kembali melewati hari-harinya yang berat.
“Fotonya hilang! Foto usang itu benar-benar hilang!”
Vallen panik seketika, kedua tangannya sibuk merogoh saku celananya, jelas-jelas ia menyimpan foto tersebut dalam saku belakang celananya, namun seketika raib tanpa jejak. Mimpi itu menimbulkan kecurigaan bahwa ada suatu hal yang belum terselesaikan. Kasus ini pun mencuat dan terdengar banyak orang, ada sejumlah saran dan peringatan-peringatan kecil yang dilontarkan sebagian orang yang ikut berempati maupun yang kontra terhadap cerita yang dialami Vallen, bahkan tak banyak pula yang mengatakan bahwa semua itu hanyalah omong kosong.
Hal ini membuat Vallen frustasi, pemikirannya buntu, berbagai cara telah ia lakukan, dari mulai menjalani hal-hal spiritual kecil sampai yang dianggap paling tidak masuk akal sekalipun. Namun ada satu cara yang menarik minat Vallen, cara yang diketahuinya setelah mencari referensi dari berbagai media yaitu dengan cara tidur tengah malam melintang di depan pintu rumah dengan bantal sapu gersang. Aneh juga hal tersebut, Vallen yang secara fisik agak tomboy memiliki naluriah yang sama dengan perempuan lainnya, berani mengambil risiko atas keputusasaannya.

Bersambung.......

Comments

Popular posts from this blog

7 Unsur Budaya Desa Golat Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis

Karakteristik budaya (meliputi tujuh unsur kebudayaan) masyarakat di Dusun Golat Tonggoh, Desa Golat, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Dalam ilmu sosiologi, dimanapun kita berada, baik itu di lingkungan rumah maupun ketika kita melakukan kunjungan ke luar daerah, ke luar kota, bahkan sampai ke luar negeri, kita akan selalu menemukan tujuh unsur  ke budaya an   dalam masyarakat. Ketujuh hal ini, oleh Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Catagories of Culture   (dalam Gazalba, 1989: 10), disebut sebagai   tujuh unsur kebudayaan   yang bersifat universal ( cultural universals ). Artinya, ketujuh unsur ini akan selalu kita temukan dalam setiap kebudayaan atau masyarakat di dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan   usaha   manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara eksistensi diri dan kelompoknya. Adapun yang menjadi karakteristik budaya di Dusun Golat Tonggoh adalah sebagai berikut : (1) Sistem religi dan ...

Chord Lagu Demi Tuhan Aku Ikhlas - Armada feat Ifan Seventeen

Intro : G – Cm – G              G Demi Tuhan         C                            G        C Sungguh berat aku lalui                   G            C                       Bm Tanpa kamu bersama denganmu                       C                     G Sungguh sulit ku menolak       ...

Ini Cinta Bukan yang Lainnya

“Ini tak seharusnya terjadi!!” Aku melemparkan sebuah kertas lipatan yang terselip di dalam coklat yang aku terima dari seorang lelaki berkacamata. Lelaki yang selama kurang dari dua minggu rajin sekali memberikan aku coklat dengan suratnya yang terkesan terlalu berlebihan. Mungkin layak untuk dibilang bahwa situasi seperti ini mirip dengan cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan. Entah kenapa aku tidak begitu tertarik dengan orang yang perhatian denganku kali ini, hanya saja aku terlalu risih dengan caranya memberikan perhatian kecil yang selalu blak-blakan bicara dengan santri mengenai perasaanya. Bukannya aku malah senang, tapi seharusnya ia lebih tahu akan keberadaanku disini, di lingkungan pesantren yang penuh dengan 1001 aturan. Aku tak mau jika harus mengalami kasus-kasus seperti temanku, yang banyak dipanggil orang tuanya karena ketahuan surat-suratan dari santri ke santri. Jika ini...